Berikut adalah penjelasan mengenai faktor-faktor utama penyebab banjir tersebut:
Faktor Alam
-
Curah Hujan Ekstrem dan Perubahan Iklim Penyebab paling mendasar adalah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang turun dalam waktu lama. Perubahan iklim global meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem ini. Akibatnya, volume air yang harus ditampung oleh sungai dan sistem drainase jauh melampaui kapasitas normal.
-
Karakteristik Geografis Wilayah Banyak daerah yang terlanda banjir di Jawa Tengah, seperti Demak, Kudus, dan Pati, secara geografis merupakan dataran rendah atau cekungan. Wilayah Demak, misalnya, dulunya adalah sebuah selat (Selat Muria) yang mengalami sedimentasi alami selama ratusan tahun. Topografi yang datar dan rendah ini membuatnya menjadi daerah langganan genangan air karena air sulit mengalir ke laut.
-
Banjir Rob (Banjir Pasang Air Laut) Wilayah di sepanjang Pantai Utara (Pantura) sangat rentan terhadap banjir rob. Ini terjadi ketika air laut pasang dan masuk ke daratan. Fenomena ini diperparah oleh penurunan muka tanah, sehingga jangkauan air laut yang masuk ke darat menjadi semakin jauh.
Faktor Manusia (Antropogenik)
-
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bagian Hulu Ini adalah salah satu penyebab utama. Alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai (misalnya, di pegunungan yang menjadi hulu Sungai Lusi, Juana, atau Tuntang) dari hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman menyebabkan:
- Berkurangnya Resapan Air: Tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan.
- Erosi Tinggi: Tanah menjadi mudah terkikis dan terbawa aliran air menuju sungai.
-
Sedimentasi dan Pendangkalan Sungai (Siltasi) Material tanah hasil erosi dari hulu terbawa arus dan mengendap di bagian tengah hingga hilir sungai. Akibatnya, sungai menjadi semakin dangkal. Kapasitas tampung sungai menurun drastis, sehingga ketika volume air meningkat sedikit saja, sungai akan langsung meluap. Ini terjadi di hampir semua sungai besar di Jawa Tengah.
-
Jebolnya Infrastruktur Pengendali Banjir (Tanggul) Banjir besar yang terjadi sering kali dipicu oleh jebolnya tanggul sungai. Penyebab tanggul jebol antara lain:
- Tekanan Air Berlebih: Volume air yang sangat besar memberikan tekanan luar biasa pada dinding tanggul.
- Usia Tanggul: Banyak tanggul yang sudah tua dan kekuatannya berkurang.
- Konstruksi dan Perawatan: Kemungkinan adanya konstruksi yang kurang ideal atau perawatan yang tidak maksimal membuat tanggul rentan jebol di titik-titik lemahnya.
-
Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) Ini adalah faktor kritis, terutama di wilayah pesisir seperti Demak dan Pekalongan. Penyebab utamanya adalah penyedotan air tanah secara masif untuk industri dan kebutuhan domestik, serta pembebanan dari bangunan di atas tanah aluvial yang lunak. Penurunan muka tanah menyebabkan:
- Daratan menjadi lebih rendah dari permukaan laut, memperparah banjir rob.
- Aliran air sungai melambat dan sulit menuju ke laut, sehingga air tertahan lebih lama di darat.
-
Sistem Drainase Perkotaan yang Buruk Di area permukiman, sistem drainase yang sempit, tersumbat sampah, atau tidak terintegrasi dengan baik menyebabkan air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar. Hal ini menimbulkan genangan lokal yang bisa memperburuk kondisi banjir luapan sungai.
Secara singkat, banjir di Jawa Tengah adalah hasil dari "efek domino": hujan ekstrem (faktor pemicu) jatuh di kawasan hulu yang sudah rusak, membawa material erosi yang membuat sungai di hilir menjadi dangkal. Sungai yang dangkal tidak mampu menampung volume air yang besar, sehingga menekan dan menjebol tanggul yang sudah tua atau lemah, lalu menggenangi wilayah dataran rendah yang juga mengalami penurunan muka tanah.