Halo, teman-teman.
Hari ini tanggal 15 Juni. Di tengah riuh rendahnya akhir pekan, aku ingin mengajakmu berhenti sejenak. Bukan untuk membahas hal-hal besar di dunia, tapi untuk melihat sesuatu yang sangat dekat, namun seringkali kita lewatkan. Aku ingin kita bicara tentang Ayah.
Pernahkah kamu benar-benar menatapnya? Bukan hanya sebagai figur otoritas atau pencari nafkah. Tapi menatapnya lebih dalam, saat ia terlelap di sofa karena lelah, atau saat ia menatap kosong ke luar jendela, dengan pikiran yang tak pernah kita tahu isinya.
Pernahkah kamu sadar, di balik diamnya, ada lautan cinta yang tak pernah ia ajarkan cara mengucapkannya?
Cinta yang Tak Butuh Kata-kata
Ibuku adalah hujan, yang cintanya jatuh membasahi dengan nyata. Ayahku adalah akarnya. Cintanya bekerja dalam sunyi di bawah tanah, memastikan pohonnya tetap berdiri kokoh, tak peduli badai apa yang menerpa di atas.
Mungkin cinta ayahmu juga begitu. Cinta yang hadir dalam bentuk pertanyaan, "Sudah makan?", yang sebenarnya berarti "Aku ingin memastikan kau baik-baik saja." Atau dalam omelan kerasnya saat kita pulang larut malam, yang sejatinya adalah wujud dari kekhawatiran yang luar biasa.
Itulah esensi dari perayaan yang kita kenang hari ini. Hari Ayah bukanlah sekadar tanggal di kalender. Ini adalah sebuah pengingat dari semesta. Sebuah jeda agar kita menoleh dan menyadari keberadaan cinta yang paling kuat, paling sunyi, namun seringkali paling kita anggap remeh. Ini adalah hari untuk pahlawan yang tak pernah meminta panggung.
Sebuah Kisah dari Hati Seorang Anak
Tahukah kamu? Perayaan Hari Ayah Sedunia yang jatuh tepat hari ini, Minggu ketiga di bulan Juni, lahir dari hati seorang anak perempuan. Sonora Smart Dodd, namanya. Ia melihat ayahnya, seorang diri, membesarkan keenam anaknya dengan cinta yang tak terbatas. Hatinya tergerak. Ia ingin seluruh dunia mengakui pengorbanan sunyi seperti yang dilakukan ayahnya.
Di Indonesia pun, semangat yang sama bergema. Pertanyaan sederhana "Bagaimana dengan Ayah?" melahirkan Hari Ayah Nasional setiap 12 November. Sebuah pengakuan bahwa dalam sebuah keluarga, ada dua pilar yang sama pentingnya.
Dua tanggal, satu makna. Keduanya adalah tentang rasa terima kasih yang mungkin sering tercekat di tenggorokan.
Hari Ini, Pulanglah Padanya
Mungkin hubunganmu dengan ayahmu tidak sempurna. Mungkin ada jarak, ada luka, atau ada kata-kata yang belum sempat terucap. Tapi hari ini, cobalah lihat dia sekali lagi.
Lupakan sejenak tentang sosoknya yang serba bisa. Lihatlah ia sebagai manusia biasa yang punya lelah, punya takut, dan punya rindu. Pria yang sama yang dulu rela punggungnya menjadi kuda-kudaan untukmu, kini mungkin punggungnya sering terasa sakit. Tangan yang dulu kokoh mengangkatmu, kini mungkin mulai bergetar.
Maka, jika kau bisa, pulanglah padanya hari ini. Bukan hanya secara fisik, tapi pulanglah dengan hatimu.
Peluk dia. Tanyakan kabarnya. Buatkan secangkir kopi kesukaannya. Dengarkan ceritanya, bahkan jika itu cerita yang sudah puluhan kali kau dengar.
Ucapkan terima kasih. Bukan hanya karena hari ini adalah Hari Ayah, tapi karena setiap hari, dia adalah ayahmu.
Karena di balik punggungnya yang tegar, ada rumah terhangat tempat kita selalu bisa kembali.
Bagaimana caramu merayakan sosok ayah dalam hidupmu? Bagikan ceritamu di kolom komentar, ya.
Salam hangat.
Tags: #HariAyah #HariAyah2025 #15Juni #CintaAyah #Keluarga #Refleksi #Pahlawanku #TerimaKasihAyah #KisahInspiratif